Pagi di Lamu Reach saat musim berbalik: dinding awan muson di cakrawala, dermaga batu karang, angin laut menekuk pohon kelapa.
Dhow para awak, layar lateen krem bergaris nila menggembung oleh angin.

Dhowborne

Muat Permainan

Butir demi butir mengisi takar.

Tahun ini angin tidak berbalik.

Pesisir Zanja dari atap tinggi: kota batu karang di tebing kanan, menara pelabuhan, dhow kecil membuang sauh di air pirus, kain kanga dijemur di tepi atap.

Tamu datang, tuan rumah ikut pulih.

Lamu Reach sudah bangun sebelum matahari. Kami menurunkan karung kurma dan menaikkan air tawar, dan semua orang di dermaga menanyakan hal yang sama: kapan angin berbalik? Sebelas pelabuhan lain di pesisir ini menunggu jawaban itu juga.

Dhow para awak berlayar keluar dari pelabuhan, lunasnya sudah di laut lepas.
Geladak dhow di laut lepas. Tiga Sprayborn dari buih dan karang patah memanjat pagar kanan, layar lateen melengkung di atas. Lima awak menyerbu ke kanan bersama: bilah layar bambu, dayung lengkung, kapak, ketapel tali, dan tombak pendek.

Tongkat yang jauh tak membunuh ular.

Di laut, kami bertarung dengan apa yang ada di geladak: dayung, kapak, tali. Tiap ronde angin berpindah arah, dan arah itulah yang menentukan siapa bergerak lebih dulu. Bibi Halima selalu melihat layar dulu, baru melihat musuh.

Ronde 1. Angin buritan. Awak bertindak lebih dulu, dan batu Zawadi terbawa angin sampai ke pagar.

Awak kapal

Laut kaca di malam tanpa angin: lambung dhow dan satu lentera di permukaan, di bawahnya air pirus jernih dan taman karang. Mzee Fumo menyelam kepala lebih dulu, tombak pendek di sisi badan, gelembung naik dari janggutnya. Hiu paus besar berbintik putih berenang di samping Mzee Fumo.

Yang berjalan pelan tidak tersandung.

Mzee Fumo menyelam tanpa terburu-buru, dan hiu paus itu sudah mengenal baunya. Waktu angin mati, dialah yang turun mencari arus di bawah lunas. Ia naik membawa kerang, kabar arus, dan sesekali kunci yang tidak dikenal siapa pun.

Mercusuar batu karang di ujung karang, dilihat dari puncak tiang kapal.Zawadi memanjat tiang berbalut tali, kepang berayun, menatap cakrawala.

Yang tak diajar ibunya, diajar dunia.

Zawadi besar di tiang kapal orang lain. Dari atas, ia melihat mercusuar dan karang dangkal lebih dulu daripada kami semua. Ketapelnya jarang meleset.

Pulau karang saat surut dengan bakau dan lengkung batu tua, dilihat dari buritan kapal.Bibi Halima bersandar pada batang kemudi berukir, mata menyipit ke cakrawala.

Terlalu banyak nakhoda, kapal oleng.

Bibi Halima tidak mau berdebat soal arah. Ia membaca bintang dengan kamal kuningan dan membaca kami dari cara kami diam. Begitu ia bilang putar, kami putar.

Pasar malam di dermaga: lampu minyak, ikan bakar, tumpukan kain kanga, dhow tertambat di air gelap.Ashur berlutut di atas papan jati, menyambung tali sabut di pahanya, kapak di sampingnya.

Tergesa-gesa tak membawa berkah.

Ashur memperbaiki apa saja yang dibawa ombak ke dermaga: lambung, dayung, kadang orangnya sekalian. Ia menyambung tali di pasar malam sambil mendengarkan pedagang bertukar cerita. Simpulnya tidak pernah lepas.

Yang mengapung itu dibuat orang.

Pintu ini dulu milik keluarga juru layar di Lamu Reach. Ukiran ikannya untuk laut, rantainya untuk orang yang menunggu di rumah. Di baliknya, Dhowborne bergerak untuk pertama kali.

Pintu kayu jati berukir ikan, teratai, dan kurma, berpaku kuningan, dengan cincin besi di tengah.
Nuru bersandar ke belakang dengan seluruh berat badannya, menarik tali layar yang naik ke luar bingkai. Jinn of the Turning Wind: sosok tinggi dari pusaran angin, buih, dan kain layar bermotif nila, dengan cincin kuningan melayang di kepala.

Yang menolongmu saat susah, itulah sahabat.

Nuru tidak mencari Jinn sendirian. Lima orang, satu dhow, dan angin yang menolak berbalik. Tinggal satu tangan lagi di tali.

Trailer Dhowborne

Cuplikan pembuka trailer Dhowborne.
Buka di YouTube

Privasi

Ketentuan

EULA

Bantuan