

Yang tak diajar ibunya, diajar dunia.
Zawadi besar di tiang kapal orang lain. Dari atas, ia melihat mercusuar dan karang dangkal lebih dulu daripada kami semua. Ketapelnya jarang meleset.
Pakai tombol panah untuk berpindah simpanan. Simpanan yang dipilih langsung dimuat dan mengubah halaman.
Butir demi butir mengisi takar.
Tahun ini angin tidak berbalik.
Lamu Reach sudah bangun sebelum matahari. Kami menurunkan karung kurma dan menaikkan air tawar, dan semua orang di dermaga menanyakan hal yang sama: kapan angin berbalik? Sebelas pelabuhan lain di pesisir ini menunggu jawaban itu juga.
Di laut, kami bertarung dengan apa yang ada di geladak: dayung, kapak, tali. Tiap ronde angin berpindah arah, dan arah itulah yang menentukan siapa bergerak lebih dulu. Bibi Halima selalu melihat layar dulu, baru melihat musuh.
Ronde 1. Angin buritan. Awak bertindak lebih dulu, dan batu Zawadi terbawa angin sampai ke pagar.
Mzee Fumo menyelam tanpa terburu-buru, dan hiu paus itu sudah mengenal baunya. Waktu angin mati, dialah yang turun mencari arus di bawah lunas. Ia naik membawa kerang, kabar arus, dan sesekali kunci yang tidak dikenal siapa pun.


Zawadi besar di tiang kapal orang lain. Dari atas, ia melihat mercusuar dan karang dangkal lebih dulu daripada kami semua. Ketapelnya jarang meleset.


Bibi Halima tidak mau berdebat soal arah. Ia membaca bintang dengan kamal kuningan dan membaca kami dari cara kami diam. Begitu ia bilang putar, kami putar.


Ashur memperbaiki apa saja yang dibawa ombak ke dermaga: lambung, dayung, kadang orangnya sekalian. Ia menyambung tali di pasar malam sambil mendengarkan pedagang bertukar cerita. Simpulnya tidak pernah lepas.
Pintu ini dulu milik keluarga juru layar di Lamu Reach. Ukiran ikannya untuk laut, rantainya untuk orang yang menunggu di rumah. Di baliknya, Dhowborne bergerak untuk pertama kali.
Nuru tidak mencari Jinn sendirian. Lima orang, satu dhow, dan angin yang menolak berbalik. Tinggal satu tangan lagi di tali.
Kamu ikut berlayar. Dhow berangkat pada
21 Mei 2027